Penelitian yang berlangsung selama hampir satu dekade itu telah memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Salah satunya adalah ke mana kutu yang terinfeksi wabah tersebut akhirnya dilepaskan.
Bukti mengarah ke Burma, yang sekarang disebut Myanmar, tutur Lim.
Dalam sebuah surat pascaperang, dokter asal Amerika Serikat (AS) Leonard Short di Badan Intelijen Kolektif Gabungan (Joint Intelligence Collective Agency) menyebutkan bahwa Jepang mungkin memproduksi kutu-kutu pembawa wabah penyakit di Yangon. Pada awal 1944, divisi Perang Kimia Amerika (American Chemical Warfare) memberi tahu badan-badan intelijen bahwa "Jepang menyebarkan kontainer-kontainer 'bola Natal' melalui udara, dalam pola yang teratur di perbatasan Burma-China," tulis Short. "Bola Natal" itu serupa dengan bom bakteri bercangkang kaca milik Unit 731.
Dokumen-dokumen Arsip Nasional AS yang telah dideklasifikasi mencatat bahwa pada 1944, "Jepang meminta Myanmar untuk menyediakan tikus dan mencit hidup. Pihak militer AS berspekulasi bahwa Jepang mungkin menggunakannya dalam perang biologis untuk menyebarkan wabah penyakit."
Meskipun terdapat temuan-temuan, kurangnya informasi langsung menimbulkan tantangan besar dalam memahami gambaran keseluruhan sistem perang biologis Jepang di masa perang, kata Lv Jing, lektor kepala bidang sejarah China di Universitas Nanjing.